Oleh: Chivas Tulip | Desember 17, 2007

jiwa-jiwa kosong..14

setelah hujan dan bulan purnama bersinar anggun. Udara malam masih terasa basah. walau tak berbintang malam ini terasa terang. Aku bersandar pada tembo kusam dengan sebatang rokok.mataku menatap tajam dalam balutan dingin malam.seiring dengan hembusan angin seperti berbisik. Aku kembali menghisap rokoku dalam-dalam. sebelum akukembali menyandar di tembok dungu yang rela menjadi sandaran.
Perlahan sinar sang dewei malam mulai pudar. Awan tipi berwarna hitam menghalangi sinar sang ratu malam. tapi apa kau peduli. aku masih setia dengan rokokku dan ocehan binatang malam yang bernyanyi. aku mainkan sebuah lagu dengan gitar yang dari tadi tersandar bisu disisi kiriku. Angin seolah tak peduli dengan badanku yang terasa dingin dia terus saja berhembus perlahan.
Perlahan aku nyanyikan nomor dari nirvana. Aku berdendang perlahan memainkan sedikit dari reff lagu nirvana. aku terbatuk asap rokok dari tembakau membuat tenggorokanku gatal. lalu cepat kuminum beberapa teguk bir yang ada di sebelah kananku. mataku kembali menerawang menembus remang malam. Aku terdiam lalu kusandarkan kembali gitar kesisi kiriku tempat semula.
Aku berfikir tentang orang tua yang berfikir lebihbaik bercerai. sedangkan akulahir fungsinya untuk apa. lebih baik aku tak pernah terlahir. ak menegpal tangan kuat-kuat. jiwaku ingin meledak dengan ulah para orang tua tolol yang harus bercerai. lalu kenapa mereka menikah.Aku kembali menyalakan rokok lalu ku hisap dalam-dalam. Lebih baik kau mati kena serangan nikoton dari pada harua menjadi manusia bodoh yang menikah terus bercerai.
“kenapa lo bengong Ros,apalagi di gang gini?”. Tegur Jhon
“gak kenapa-kenapa. geu lagi boring aja”.
“kenapa lagi sih lo?”
“gak kenapa-kenapa Jhon. lagi datang aja penyakit jadi orang kaya”.
“lo ngaco aja”.
“mungkin. atau mungkin gue tuh udah gila?”
“kalo lo gila lo gak akan gue temenin”.
“atau janagn-janagn lo udah gila juga”.
“sadis lo . janagn lo kesambet setan terminal”.
Kembali sunyi. hanya suara nafas perlahan terdengar. atau kadang dengusan. atau suara krikil yang di lempar dari tangan-tangan kami.ata bahka suara air yang perlahan melewati tenggorokan. dan suara yang timbul di sekitar kita.
“lo pasti mikirin bokap sama nyokap lo kan Ros?”. Aku diam seolah tak mendengar
“gue tau Ros, geu kadang juga begitu. tapi mereka selalu benar dan akan selalu benar”.
“maksud lo selalu benar apa Jhon?”
“kita sebagai anak selalu jadi sasaran kesalahan. dan kita di haramkan untuk membantah”.
“terus?”
“kalo kita lawan kita kualat. masuk mneraka dan gak berkah”.
“gila dan sadis lo. sejak kapan lo punya pikiran kaya gitu?”
“saat Bokap ngatain gue anak sialan dan nyokap nagatain gue begitu juga”.
“lo terima?”
“enggak lah samapai mati geu gak terima. gue kan spermanya bokap hasil pelebuarn permainan mereka”.
“kadang gue juga ngerasa aneh. bokap nyokap gue cerai gak jelas. dan selalu nyalahin gue”.
“Lo masih mending nyokap bokap lo cerai. nyokap bokap gue samapah. entahlah mereka tuh cerai atau gak?”
“maksud lo?”
“lo liat bokap kawin lagi terus nyokap gue juga sama”.
hidup apa perlu berisiko. mansi atau pahit harus rela di jalani. apa ini adil,dimana sang penguasa yang menciptakan keadilan. apa aku harus menghargai wujud hiudup. aku tak mengerti,wujud hidup sesungguhnya itu juga tak pernah jelas. aku kembali mengepal tanganku,kemudian menjambak rambutku.
Sadar atau gak sadar hidup adalah ketakutan. Mungkin seperti itu. tapi entahlah apa aku takut mengahadapi hidupku sendiri. Tapi aku belajar untuk terus untuk tersenyum walau senyuman itu dibuat-buat.


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.