Dari kejauhan Jhon dan dit berlari langsung menubruk Rat.Did dan Rat berguling kesisi jalan dengan aspal yang sedikit rusak,teriakan dari Rat yang mengaduh terdengar jelas. Did langsung mengunci gerakan Rat.
“cukup Dit!”. teriakku
“ada apa sih Ros,geu gak paham?”. aku menghela nafas perlahan
“rat punya masalah dengan masalalunya. dan ternyata mantannya dulu abangnya Chiv”.
“udah Did lo lepasin tuh si rat!”teriak Jhon. Perlahan Did melepas kuncian.
“eh rat, gue bilangin Ros gak pernah ngerti urusan lo.dan kalo lo minta bantuan dengan cara lo yang baik-baik”.
“Lo ngerti apa tentang luka perempuan. lo tuh cuma bisa menghujat”.
“geu tau perasaan lo Rat, tapi apa lo tau luka gue semua. lo jangan egois”.
semua terdiam. Ya,luka ini begitu nyata.bahkan untuk bangun esok pagi terasa berat bila luka itu melintas dalam pikiran. ingin akhiri hidup. tapi cuma bikin judul di koran-koran murahan dan jadi bahan tertawaan.Aku duduk di trotoar mataku menatap lalulintas padat dan kepulan asap kenalpot. aku bisa menegerti luka. dan luka itu terasa menyakitkan.bahakn akan menjadi bayangan yang sangat menegerikan dalam setiap mimpi.
Aku mendekati Rat yang menangis. aku dudk disebelahnya.isakannya terdengar jelas. bahakan isakan itu terasa menyakitkan. aku juga merasakan luka yang dalam. aku memegang pundak Rat. lalu menepuk perlahan.
“gue harus bilang apa untuk mewakili luka lo?”. tapi isakan isu terus berlanjut
“tapi ini gue ngomong untuk yang pertama biarlah Tuhan yang membalas. walau gue gak tau Tuhan itu ada atau gak.dan biarkan semua berjalan apa adanya. gak perlu nunggu keajaiban”. aku berdiri dan melangkah pergi di ikuti Jhon dan Did.
“tapi itus terserah lo,gue gak akan pernah mempengaruhi pikiran orang”. aku berkata sambil berlalu.
Debu bertebaran menemani langkahku di siang ini. aku menelusuri totoar. angin terus berhembus namun hembusan angin tak mengurangi panas di tengah kota ini. aku belok kekanan menelusuri lorong sempit sedikit pengab. lalu ada jalan setapak dengan rerumputan setinggi dengkul. tapi ditengah ada sebuah gubuk yang aku dirikan beberapa bulan lau. entahlah ini tanah milik siapa. disini kadang aku menghabisakn siangku. menegak beberpa botol chivas atau sekedar menghisap ganja atau kadang menulis puisi tentang hati yang duka. aku bilang inilah pulauku.
“geu bingung sama Rat,kenapa sih dia bisa minta bantuan lo. diakan baru kenal lo Ros”.Ucapa did
“bener tuh ros, gue yang kenal lo lama sampai sekarang belum pernah nyusain lo”. Timpal Jhon
“udahlah, ngapaij sih lo bahas,gue capek dengan manusia tiba-tiba yang tinggal di markas kita.semua misterius”. Aku kembali menarik nafas perlahan.
“entahlah Jhon kadang gue juga ngerasa aneh”.
“gue kira lo tuh kaya malaikat”.Timpal Jhon
“yeah,dengan sayap tololnya”. Did tertawa lepas
Mendung,seharusnya ini belum musim hujan.seharusnya belum saatnya. entahlah musim memang kadang terlalu aneh. seperti otak-otak yang bergerilya menacri sebuah kedamaian.cuma sebuah tak meminta lebih. udara sedikit basah aku masih setia melihat langit.kadang sambil berhayal menjadi lelaki bersayap. hayalan tolol yang kadang membuatku tertawa