Enam
“gue harus bicara sama lo Ros”. Chiv menarik tanganku untuk berjalan menjauh dari gudang.
“lo kenapa.kenapa gak ngomong di gudang aja”.
“gue serius Ros,dan gak mungkin di omongin di sini”. Mata chiv menatap tajam
“ok lo mau di mana biacara tentang rahasia lo?”
“di selatan dermaga kapal barang. gue tunggu di sana”.
“Lo serius?”. Chiv mengangguk pelan.
Deeburan ombak. kepakan camar-camar.dari kejauhan kapal nelayan terlihat seperti titik. aku melihat Chiv menjuntikan kakinya di atas batu karang yang besar. Rambutnya di mainkan angin pantai yang lumayan kencang.
“gue kira lo mau bunuh diri terus mau ninggalin wasiat ke gue”. Chiv tersenyum hambar
“ini tentang cerita Rat semalam Ros”.
“trus kenapa. Lo mau gantiin posisi Le,atau jangan-jangan lo Le sendiri?”
“ros, lo jangan asal bicara justru disinu gue mau bicara”.
“udah Chiv jangan bertele-tele. kalo gue lihat lo kenal banget sama Rat?”
”Sebenernya geu gak kenal begitu Rat. Le abang gue Ros, gue sering banget bilang jangan mainin semua cewe. tapi Le selalu tidur dengan cewe yang di kencani”.
“sebentar lo serius.maksud gue bener cerita lo ini?”
“Yup. Gue ngerasain pedih Rat. semalem saat dia cerita sama lo sengaja gue nguping”>
”trus di mana Le sekarang?”
“kenapa, mau lo bunuh bila gue kasih tau di mana Le?”
“mungkin iya atau bahkan gue gak peduli sama sekali”.
“maksud lo?”
“apa gue seperti pembunuh?”
“hati lo siapa yang tau Ros”.
deburan ombak terdengar keras. Aku seperti diantara dua pilihan.Aku tak mengira Chiv adalah adik Le. Aku tak mengerti kenapa aku terlibat semua ini. Aku bukan pembunuh. ini semua karna dendam. Mungkin kalau aku wanita aku akan melakukan seperti itu. bahkan aku akan mencabik-cabiknya.
Langit masih biru.tapi tidak hatiku,mungkin juga hati Chiv. aku diam melihat ombak bergulung-gulung.aku seperti hanyut diantara pikiran mereka. Aku menghembuskan nafas kuat-kuat.
“gue harus gimana Ros?”
“lebih baik lo diam dulu”
“mungkin”.
“bila lo jujur akan jadi pertempuran Chiv”.
“bis ajuga Ros. sebentar semalem gue lihat Orbit jalan sama cowok”.
“trus kenapa lo cemburu?”
“enggak lah. Dua hari ini orbit gak pulang”.
“entahlah semua punya dunia sendiri”.
”lo gak khwatir?”
“trus geu mau bilang apa?sebentar Le ada di mana?”
“kenapa, lo jadi peduli gini?”
”lo gak mau bilang gak apa-apa kok. sory chiv gue harus ke Jhon sama did nunggu gue di rumah bokap Did”.
“lo gak ngajak gue?”
“gak usah lo di markas aja”.
“sebentar Ros, gue cuma bilang Le ada di pinggiran kota. maksud gue di luar kota 3 jam dari sini”.Aku mengangguk lalu meninggalkan Chiv di tepi pantai.
“ros…”. Aku gak peduli dengan panggilan Chiv.Aku terus melangkah melewati jalan berpasir. menuju jalan raya.setengah berlari. menembus terik.entahlah,aku bertemu dengan kegilaan yang nyata. Le,kenapa aku berfikir tentang Le. tiba-tiba kulihat banyangan berlari kearah kumpulan angkot. sial Rat mencuri dengar. Aku harus cepat menekuan Rat. sebuah telpon koin langsung kutuju.nomor Did langsung ku pencet.
“cepet angkat..”.
“ya hallo”.dis ebrang sana suara Did
“did. lo bisa bantu gue?”
“kenapa lo?”
“koin gue cuma satu. gue tunggu di terminal”.
“ok,gue meluncur sama jhon”.
Mataku bergerilya diantar angkot.Aku tak menemukan sosok Rat. dia seperti hantu pergi begitu saja. dan menghilang seperti hembusan angin. aku mematung di trotoar. seperti ada seseorang di belakang. ayunan tongkat begitu cepat namun aku berhasil menghindar.
“lo gila Rat, kenapa lo mau lukain gue?”
“lo penghianat”. Rat mencoba memukulku sekali lagi namun aku cepat menghindar. beberapa kali mencoba tapi selalu gagal.
“gue hianatin lo apa?”
“lo tau di mana Le”.
“lo sakit jiwa Rat,geu gak tau dia?”
“lo jangan bohong”.