“lo bilang gue aneh. lo sendiri lebih aneh,bahkan gue kira lo tuh paling aneh diantara gue berdua”.
“mungin,mungkin gue aneh. tapi gak taulah”. Aku berjalan kearah Jhon yang bersandar di pohon tua yanghampir mati.
“lo kenapa sih ributin yang gak jelas. lo nyadar gak sih kita ini bertiga udah gila.cuma rumah sakit jiwa gak pernah nampung kita”. ucap Jhon
“kenapa gak mau nerima kita?”
“karna kita ini kepinteran,buat ukiran orang gila”. aku bertiga tertawa kencang
“lo yang paling parah Jhon”. ucap Did
Langit masih mendung tipis,sepasang burungkecil bermesraan di rerumputan.Angin berhembus pelan. jhon berlari kecil dan menendang kerikil di tengah lapangan.melanting jauh diantararerumputan membuat burung kecil terbang menjauh.
Aku terdiam begitu juga Did.Gedung-gedung tinggi seperti tersenyum menghina.mereka menonton setiap apa yang kulakukan,tidak jauh seperti opera atau cerita sinetron. Dan gedung-gedung itu seperti senang atau mungkin bertepuk tangan. Aku masih berdiri diam diantara rerumputan bodoh yangrela di injak-injak.
Udara mulai dingin sedikit lembab. Mungkin sedikit lagi turun hujan atau badai aku tak pernah menegrti. Setiaku dengan berdirikuseperti prajurit siap perang. Aku hisap rokokku kuat-kuat. Mataku menatap gedung lagi. lalu dalam hatiku memaki sejuta caci maki.Karna aku bukan badut atau tontonan yang lucu.
“eh mobil chiv belum lo balikin Did?”tegur Jhon
“males buat jalam-jalan aja dulu baru nanti di baliki”.
“kan geu bilang dia yang paling sakit”. Jhon tertawa keras.
angin lembab masih bertiup pelan.Aku dan Jhon menelusuri pantai yang sedikit kumuh. ombak bergulung keras. sisa buih terlihat jelas. sekelompok camar berterbangan di pantai yangkumuh. begitu juga asap-asap kapal tengker yangberjalan di kejauhan.Aku terus melangkah menelusuri pasir yang sedikit berbau.
Mataku kembali menatap sosok yang pernah ku kenal. dia terdiam disisi karang yang diam.suara isakan perlahan terdengar. ya gadis itu bernama Orbit.Orbit kenapa dia menangis.
“kenapa lo disini or?pakai nangis segala”. sapaku.Tapiorbit tetap setia dengan tangisannya.
“lama gak ke markas,sekarang disini. lagian kenapa salah tempat”. ucap jhon